Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Mengajarkan Tentang Kematian

Bagaimana seorang guru dapat menanamkan kebaikan Tuhan kepada seorang anak yang telah kehilangan seorang teman atau anggota keluarga karena kematian? Ketika Rasul Paulus menulis untuk Gereja di Korintus, dia menjawab banyak pertanyaan mengenai kematian (1Korintus 15). Apa yang terjadi? Kemana tubuh itu pergi? Akan seperti apakah kebangkitan itu?

Paulus memberikan contoh tentang sebutir biji: biji ini harus mati sebelum biji ini dapat menghasilkan hidup yang baru. Ketika kita melihat sebutir biji tomat dan membandingkannya dengan buah plum, yang menghasilkan buah yang enak rasanya, sulit bagi kita untuk percaya bahwa mereka adalah bagian dari proses yang sama.

Kematian adalah bagian dari rencana Tuhan untuk Yesus. Kebangkitan- Nya merupakan peringatan yang membuktikan bahwa kematian tidak mempunyai kekuatan apapun bagi orang Kristen. Orang yang mati tidak kembali hidup kecuali diproses untuk hidup yang lebih baik dengan Tuhan. Seorang guru yang mengetahui konsep tersebut dapat menerangkan hal-hal berikut ini kepada anak-anak. Mungkin anak-anak ingat orang yang mereka sayangi dan telah meninggal. Mungkin tubuh orang itu telah terluka atau sakit. Nah, orang yang sudah meninggal itu tidak lagi membutuhkan tubuhnya. Yang lebih istimewa adalah bahwa bagian yang tak terlihat dari orang itu telah pergi ke rumah baru yang indah dengan Tuhan. Orang yang mereka cintai itu akan menerima satu tubuh yang baru yang akan membuat dia bahagia.

Anak-anak juga perlu mengerti bahwa kematian adalah nyata dan akhir. Bagi kebanyakan orang, pengalaman pertama mereka tentang kematian adalah kematian binatang piaraannya. Mereka mungkin melihat seekor ikan mas yang sekarat selama berjam-jam sebelum mengakui bahwa ikan itu sudah tidak perlu diberi makan lagi.

Kemudian suatu hari "peristiwa semacam itu" terjadi pada seorang teman atau keluarganya. Dalam situasi seperti ini, orang yang telah dewasa seharusnya tidak mengatakan kematian dengan istilah "tidur" atau "mereka pergi"; hal itu hanya akan mengajarkan kebohongan pada mereka. Ungkapan yang lembut dari kata "tidur" mungkin memberi pengertian pada anak tentang sebuah kematian yang damai secara alami, dengan kata lain ini bisa menyebabkan seorang anak menjadi takut untuk tidur. Hal ini membuat anak tidak menemukan jawaban ketika dihadapkan pada kematian seseorang karena sakit yang parah.

Dalam perkembangan masyarakat saat ini anak-anak jarang diterangkan tentang melawan kematian seseorang secara alami. Kebanyakan dari kematian yang mereka saksikan adalah orang yang meninggal dengan tenang, yang mereka saksikan di film-film atau acara-acara televisi. Hanya sedikit anak yang disiapkan dan diberitahu mengenai hal-hal yang sesungguhnya mengenai kematian. Orangtua dan guru-guru seharusnya membahas kematian dengan anak-anak sebelum kematian itu terjadi pada orang yang disayangi dan dekat dengan mereka. Orang dewasa harus menjelaskan kenyataan tentang tubuh yang mati, berbagai kenyataan tentang apa yang terjadi dengan orang-orang percaya yang sudah meninggal, dan tentang hidup kekal.

Ketika kematian terjadi pada seorang kerabat dekat, orang dewasa seharusnya memberikan kepada anak, rasa nyaman untuk menghilangkan ketakutan pada diri anak. Hal ini harus dilakukan dengan tidak memberikan kesan negatif dari rasa kehilangan yang dirasakan anak itu. Ada kesukaan yang besar di surga bagi orang yang mati dalam Kristus, tetapi tidak dapat dihindari juga timbulnya kesedihan yang ditunjukkan oleh orang-orang yang ditinggalkan. Itu adalah hal yang wajar. Kita sering melihat orang dewasa menghindarkan anak dari kesedihan karena kematian seorang anggota keluarga atau teman, dengan harapan menghilangkan kesedihan mereka. Ini adalah suatu ketidakadilan. Biarkan dia sejenak mengekspresikan kesedihan hatinya. Karena dengan cara itulah dia ingin menunjukkan rasa cintanya dan rasa kehilangannya kepada orang yang meninggal itu.

Mungkin ada perbedaan antara orangtua dan guru SM dalam menerangkan kematian kepada anak-anak. Orang dewasa yang bermaksud baik dan berharap bisa melonggarkan perasaan anak, biasanya menjelaskan bahwa temannya yang meninggal itu sedang berlibur atau hanya beristirahat.

Hubungan yang dekat antara orangtua dan guru SM dapat berguna. Para guru dapat membekali orangtua dengan hal-hal yang berhubungan dengan Kitab Suci. Mereka dapat juga memberitahu jawaban yang tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan dari anak mereka dan mengatur pertanyaan bagi orangtua yang ingin membahas topik tersebut di rumah.

Sumber
Judul Artikel: 
Children`s Ministry: How To Reach and Teach the Next Generation

Komentar