Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Bagian C: Pribadi Penyiksa

Penyiksaan: Pribadi Penyiksa
Latar Belakang

Pribadi penyiksa dapat kita temui pada segala lapisan sosial ekonomi, pendidikan, suku dan kelompok usia. Bukan hanya di kalangan pria, di kalangan wanita pun ada para penyiksa. Yang berikut dapat terjadi pada keduanya. Walau cirinya sama, kami akan menggolongkan tiga hal berikut:

Penyiksa Istri atau Suami:

Walaupun jalan peristiwa masing-masingnya berbeda namun ada suatu kesamaan dalam masing-masingnya. Para penyiksa memiliki "titik didih yang sangat rendah" dan hanya mengenal satu jalan untuk menyalurkan kemarahannya, yaitu menyiksa. Dia memiliki harga diri yang rendah, sering menganggap diri seorang gagal, buruk dalam hubungan dengan orang lain, pencemburu, dan menuduh pasangannya tidak bersikap mendukung atau tidak setia. Dia berusaha mengontrol segala kegiatan pasangan hidupnya, bahkan memata-matainya dan merasa bahwa tindakannya itu baik bagi keluarganya. Dirinya tak pernah puas, selalu menuntut, tak menerima bila disalahkan atas kegagalannya, sering menyakiti tanpa perasaan, dan tidak merasa bersalah dalam emosinya ketika mengakui hal itu.

Para penyiksa cenderung membenarkan diri sendiri, entah merasa bahwa pasangannya yang mendorong dia menjadi penyiksa atau menolak kenyataan bahwa dirinya menyiksa. Frustrasi akan meledakkan dorongan diri untuk menyiksa: Dia tidak bisa meninju pimpinannya, maka disalurkannya pada istri dan anak-anaknya di rumah. Penyalahgunaan alkohol dan obat sering menjadi sebab kelakuan panas tersebut.

Penyiksa Anak:

Sebagian besar dari ciri-ciri di atas terdapat pula dalam diri para penyiksa anak. Tambahan, dia sangat menuntut, kemauannya harus dituruti segera secara membabi buta. Dia luar biasa tak sabaran, dan sering menyalurkan segala frustrasi, luka dan kepedihan masa kanak-kanaknya sendiri pada anak-anaknya sendiri. Tuntutan dan pengharapannya terlalu tinggi bagi mereka, maka dia sering mencaci maki atau menghina mereka. Seringkali caci makinya sedemikian kasar dan keji, sampai si anak hancur batinnya dan mulai menerima siksa jasmaninya secara pasif karena merasa hal itu pantas untuknya. Mereka menjadi korban. Alkohol dan obat bius sering terlibat juga di dalamnya.

Penyiksa dalam bidang seks:

CATATAN: Kecuali anak-anak wanita, anak-anak pria pun sering jadi korban.

Ciri-ciri para penyiksa anak pada umumnya juga terdapat pada para penyiksa dalam bidang seks. Secara emosional dia terasing, walaupun dari luar dia nampak beremosi sehat. Dia nampak pasif, tetapi menjalankan kontrol yang makin lama makin ketat atas putri-putrinya yang sedang mengalami pertumbuhan. Dia kasar, mementingkan diri sendiri, memanjakan diri dan menganggap orang lain sebagai obyek. Alkohol dan obat bius sering berkaitan dengan masalah incest.

Penyiksaan dalam bidang seks ini biasanya berlangsung lama dan berulang kali, disertai oleh gertakan dan ancaman. Bila dikonfrontir, pribadi penyiksa akan menolak adanya keterlibatan atau tanggung jawab dan cenderung menyalahkan pihak korban. Kemungkinan besar, dia sendiri adalah korban penyiksaan seks sewaktu kecilnya.

Istri yang gagal melindungi anaknya dari penyiksaan seks (bila dia sadar tentang hal itu), akan bersikap pasif dan seringkali malah mendukung penolakan atau pembelaan suaminya. Bila tertangkap basah, penyiksa sering berjanji "tidak akan melakukannya lagi". Janji-janji semacam itu tidak usah dipercaya!

Dari pembahasan di atas, segera anda sadari betapa sulitnya mengurus pribadi bersangkutan. Namun demikian, mungkin langkah-langkah berikut bisa membantu.

Komentar