Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Tolong, Saya Bertambah Tua!

Edisi C3I: e-Konsel 127 - Para Lanjut Usia

Usia tua sering dipandang sebagai masa yang tidak produktif dan tidak berguna. Bob Buford, pendiri Jaringan Kepemimpinan, menuliskan dalam bukunya bahwa usia produktif seseorang hanyalah pada empat dekade pertama kehidupannya sedangkan sisanya adalah masa-masa kemunduran diri. Namun, pandangan ini berbeda sekali dengan Alkitab. Mazmur 92:13-15 menyatakan bahwa pada usia lanjut sekalipun, manusia tetap dapat Allah pakai untuk menyatakan kebenaran-Nya.

Pertanyaan "Mengapa"

Mengapa kita menjadi tua? Mungkin itulah pertanyaan yang sering muncul. Tak seorang pun akan bertambah muda. Seiring pertambahan usia, perubahan fisik pun mulai muncul. Namun, pengalaman-pengalaman hidup yang semakin bertambah hendaknya semakin membuat kita bijaksana.

Rentang hidup kita diawali dengan bekerja keras untuk mencapai apa yang kita inginkan. Bahkan sampai usia tengah baya pun kita masih terus mencari apa yang kita inginkan. Tapi Allah tidak melihat kita dari apa yang kita lakukan atau yang kita dapatkan, tetapi dari siapa diri kita.

Beban Setengah Baya

Usia tengah baya merupakan transisi dari kesibukan kita ke fokus kita. Karena masa ini adalah masa transisi, tidaklah mengherankan bila banyak orang yang mengalami krisis pada saat memasuki usia tengah baya ini. Oleh sebab itulah, usia tengah baya memberikan kesempatan kepada kita untuk mengevaluasi diri, khususnya hubungan kita dengan Kristus. Sudahkah kita benar-benar menggunakan karunia, kreativitas, tenaga, dan kemampuan yang Allah berikan kepada kita untuk kemuliaan-Nya. Pada usia ini juga merupakan saat yang baik untuk mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan baru untuk masa yang akan datang. Jangan memandang masa lalu, namun rayakan masa sekarang.

Hulu-Hulu Sungai Manusia

Sungai Mississippi yang mengalir di Louisiana merupakan aliran air yang membawa lumpur dan kotoran. Keadaan ini berkebalikan dengan aliran Father of Water di Minnesota yang mengalir jernih. Sungai Mississippi merupakan gambaran dari diri kita yang sudah terpolusi dengan dosa. Polusi ini berawal dari dosa Adam dan Hawa. Kain adalah pembunuh pertama, sedangkan Habel merupakan korbannya.

Lama hidup manusia sekarang dan dulu pun berbeda. Alkitab mencatat, Adam meninggal pada usia 930 tahun, Nuh hidup sampai berusia 950 tahun, sedangkan Metusalah, kakeknya, sampai usia 969 tahun. Akan tetapi, lama hidup manusia semakin lama semakin pendek. Abraham hanya sampai berusia 175 tahun (Kejadian 25:7). Pada zaman Musa, rata-rata usia manusia 120 tahun (Ulangan 34:7) dan Daud hanya berumur 70 tahun (2Samuel 5:4). Meskipun perkembangan dan kemajuan medis telah berhasil memperpanjang sedikit usia manusia, penuaan tetap tidak bisa dihindari.

Perspektif Allah tentang Penuaan

Dunia memang cenderung lebih menyukai masa muda dibanding dengan masa tua, namun tidak demikian dengan Allah. Allah memiliki pandangan tersendiri terhadap masa tua. Mazmur 92:13-15 menjelaskan, orang yang bertambah tua masih tetap dapat berbuah dan memperdalam persahabatannya dengan Tuhan. Ini jelas sekali berbeda dengan pandangan dunia yang menganggap orang yang sudah lanjut usia sudah tidak produktif lagi. Amsal 16:31 dan Amsal 20:29 menyebutkan bahwa Allah tetap menghormati orang yang sudah tua dan menjadi tua adalah suatu kehormatan. Alkitab mencatat beberapa peristiwa yang dialami Kaleb, Naomi, Abraham, dan Simeon yang menunjukkan bahwa Allah tetap menghargai orang yang sudah lanjut usia.

Meskipun demikian, Allah tidak memberikan jaminan karakter pada masa lanjut usia. Contohnya, Salomo yang memiliki banyak istri pada masa tuanya justru berpaling kepada Allah karena pengaruh istri-istrinya yang memiliki allah lain (1Raja-raja 11:4). Salomo akhirnya menyesal dan kembali kepada Allah (Mazmur 71:17-18).

Janji lain Allah untuk para lanjut usia terdapat di Yesaya 46:4, "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu."

Sikap Kita Menuju Masa Tua

Langkah pertama yang dapat kita tempuh saat mulai memasuki masa tua adalah menyadari bahwa masa tua merupakan bagian dari kehidupan dunia yang telah jatuh. Masa tua tidak berarti menurunnya segala kemampuan fisik kita. Yesus mengatakan dalam Lukas 2:52 bahwa kita hendaknya terus meningkat dalam kebijakan, termasuk hubungan dengan Allah dan orang lain.

Langkah kedua adalah menyadari bahwa masa tua juga dialami oleh orang lain. Perubahan-perubahan secara fisik tidak perlu dikhawatirkan. Sebaliknya, pikiran-pikiran positiflah yang diperlukan untuk menjalani masa tua. Ada banyak tokoh dunia yang justru menghasilkan karya terbaik mereka ketika mereka sudah lanjut usia, misalnya:

  • Michaelangelo yang menyelesaikan lukisan "The Last Judgement"-nya pada usia 89 tahun. Sebelumnya, di usia 66 tahun dia ditunjuk sebagai arsitek Gereja St. Petrus.
  • John Wesley masih berkhotbah sampai akhirnya dipanggil Tuhan pada usia 90 tahun.
  • Thomas Alfa Edison menghasilkan karya terbaiknya antara usia 70 dan 80 tahun.

Alkitab juga mencatat tokoh-tokoh yang pada masa tuanya justru diberi kepercayaan oleh Tuhan, misalnya Abraham yang memiliki anak dan membesarkannya saat mencapai usia seratus tahun. Musa, Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf juga tetap Tuhan pakai sampai masa tua mereka.

Perintah untuk Menghormati

Dalam Imamat 19:32, Musa mencatat hal penting yang harus kita lakukan terhadap orang yang lebih tua. Kita tidak mungkin takut akan Tuhan jika kita tidak menghormati orang yang lebih tua. Paulus juga menasihatkan orang-orang muda supaya mereka menghormati dan tidak berlaku kasar kepada orang yang lebih tua (1Timotius 1-3).

Demikian pula dengan orang lebih tua, mereka harus dapat menjadi teladan bagi yang muda dan menyalurkan nilai-nilai Allah (Mazmur 71:18; Titus 2:2-5).

Jadi, masa tua bukanlah masa yang membuat kita panik. Sebaliknya, masa tua merupakan masa untuk memasuki tahapan kehidupan yang baru.

Sumber
Halaman: 
19 -- 28
Judul Artikel: 
Hidup Prima di Usia Senja
Penerbit: 
Yayasan Andi, Yogyakarta 2001

Komentar